(3/4) Masalah Etika Revolusi Mesin Pintar

Ada kesepakatan yang telah diterima di kalangan peneliti AI modern bahwa  mesin pintar masih sangat jauh dari kecerdasan manusia, meskipun dalam beberapa kasus dalam domain ANI telah terbukti melebihi manusia. Walaupun demikian, banyak hal yang masih terlewatkan dalam AI modern. Istilah Artificial Intelligence General (selanjutnya, AGI) adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan mesin pintar yang nyata dengan kecerdasan seperti manusia. Sesuai namanya, konsensus yang muncul adalah karakteristik umum. Algoritma pembelajaran mesin yang dimiliki AGI setara dengan kinerja manusia atau bahkan lebih unggul jika sengaja diprogram untuk domain tak terbatas. AlphaGo menjadi juara dunia di catur, tetapi bahkan tidak bisa benar-benar bermain catur, apalagi mengendarai mobil atau membuat penemuan ilmiah.

Algoritma mesin pintar modern saat ini telah menyerupai semua konsep biologis kecuali Homo sapien. Lebah kompeten membangun sarangnya; berang-berang dapat membangun bendungan; tapi lebah tidak bisa membangun bendungan dan berang-berang tidak bisa belajar untuk membangun sarang lebah. Seorang manusia – Homo sapien – dapat belajar untuk melakukan keduanya; tapi ini adalah kemampuan unik di antara bentuk-bentuk kehidupan biologis. Hingga saat ini masih diperdebatkan apakah kecerdasan manusia benar-benar umum ataukah hanya lebih baik di beberapa tugas kognitif tertentu. Yang pasti kecerdasan manusia secara signifikan lebih umum dari kecerdasan nonhominid. Dari sini relatif mudah untuk membayangkan jenis masalah yang mungkin timbul dari AI yang beroperasi hanya dalam satu domain tertentu. Ini adalah kelas kualitatif berbeda dari masalah menangani AGI yang mampu beroperasi di banyak konteks atau bahkan yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Sebagai contoh – AlphaGo, algoritma mesin pintar dari Google yang mengalahkan juara catur dunia. Jika algoritma AlphaGo hanya dapat melakukan persis seperti yang diperintahkan atau diprogram oleh insinyur perangkat lunak, maka proses pra-proses untuk melihat pola-pola permainan dari data permainan sebelumnya akan sangat banyak. Pertama karena kemungkinan gerakan catur sangat besar jumlahya. Kedua, jika insinyur mengetahui gerakan apa yang lebih baik dan harus membuat algoritmanya, maka mesin pintar yang dibuatnya tidak akan bisa mengalahkan juara dunia, karena insinyur tersebut bukan juara dunia. Algoritma yang dibuat tentu saja harus bisa belajar secara mandiri, mengamati pola-pola gerakan dan menghitung semua kemungkinan untuk memenangkan permainan.

Manusia modern dapat melakukan banyak hal secara mandiri. Otak manusia mampu beradaptasi dan berkembang cepat tanpa pengalaman terdahulu. Manusia melintasi ruang dan pergi di bulan, meskipun tak satu pun dari nenek moyang manusia mengalami tantangan dengan ruang vakum. Dibandingkan dengan ANI, itu adalah masalah kualitatif berbeda untuk merancang sebuah mesin pintar yang mampu beroperasi dengan aman di ribuan konteks; termasuk konteks yang tidak secara khusus dibayangkan oleh desainer atau penggunanya; termasuk konteks yang belum ditemui manusia sebelumnya.

Untuk membangun AI yang aman dan beroperasi dalam banyak domain, banyak konsekuensi termasuk yang mungkin tidak pernah secara eksplisit dibayangkan oleh insinyur. Seseorang harus menentukan perilaku yang baik dalam hal seperti “X sehingga konsekuensi dari X tidak berbahaya bagi manusia”.  Hal ini melibatkan ekstrapolasi konsekuensi dari suatu tindakan yang merupakan satu spesifikasi yang dapat di realisasikan jika sistem mampu secara eksplisit menentukan konsekuensi tindakannya. Sebuah pemanggang roti misalnya, tidak dapat memiliki properti desain ini karena pemanggang roti tidak dapat meramalkan konsekuensi dari memanggang roti. Bayangkan seorang insinyur mengatakan, “ya saya tidak tahu apakah pesawat ini akan selalu terbang dengan aman. Saya tidak tahu mekanik pesawat ini secara detil, tetapi saya yakin desainnya sangat aman”. Pernyataan tersebut seperti tidak nyaman dari sisi penumpang, tetapi memang sulit untuk melihat semua kemungkinan dari konsekuensi yang jauh. Memerika desain kognitif mungkin dilakukan tetapi sangat sulit memprediksi semua konsekuensi dari suatu tindakan. AI akan benar-benar aman jika memiliki verifikasi yang aman dengan jaminan yang dapat dipercaya. Dalam banyak riset AI – harapan ini adalah murni harapan dan tetap menjadi permasalahan besar.

Membangun AGI dipercaya memerlukan metode yang sangat berbeda dari cara berpikir saat ini. Disiplin etika AI, khususnya pada AGI akan sangat berbeda secara fundamental dari disiplin etika teknologi non-kognitif, karena:

  • Perilaku mesin pintar AI tidak dapat diprediksi untuk keamanan manusia, bahkan jika insinyur dan programmer telah melakukan segalanya dengan benar.
  • Verifikasi keamanan sistem menjadi tantangan yang lebih besar karena kita harus memverifikasi apa yang coba dilakukan oleh sistem, bukan memverifikasi perilaku yang aman dalam semua konteks operasi.
  • Etika kognisi itu sendiri harus diambil sebagai subyek rekayasa.

Beberapa masalah etika juga akan muncul ketika kita merenungkan kemungkinan bahwa beberapa sistem mesin pintar masa depan akan memiliki status moral. Hubungan kita dengan sesuatu memiliki status moral yang tidak eksklusif soal rasionalitas instrumental: kita juga memiliki alasan moral untuk memperlakukan mereka dengan cara tertentu dan untuk menahan diri dari memperlakukan mereka dengan cara-cara tertentu lainnya. Francis Kamm telah mengusulkan definisi status moral berikut:

X memiliki status moral = karena X memiliki moral dalam dirinya sendiri; maka X diperbolehkan / tidak diperbolehkan untuk melakukan hal-hal atas kepentingan sendiri.

Sebuah batu tidak bisa memiliki status moral: kita mungkin menghancurkannya, atau terkena efek yang merusak batu itu sendiri. Seorang manusia di sisi lain, harus diperlakukan tidak hanya sebagai alat tetapi juga dengan tujuan tertentu karena manusia memikirkan dalam dirinya sendiri bahwa itu tidak diperbolehkan untuk melakukan padanya hal-hal tanpa persetujuannya. Ringkasnya, manusia memiliki status moral.

Pertanyaan tentang status moral merupakan ranah etika praktis. Misalnya perselisihan tentang kebolehan moral aborsi sering bergantung pada perbedaan pendapat tentang status moral embrio. Kontroversi tentang eksperimen pada hewan dan penganganan hewan di industri makanan melibatkan pertanyaan tentang status moral dari spesies yang berbeda dari hewan, dan kewajiban kita terhadap manusia dengan penyakit berat, seperti pasien stadium akhir Alzheimer, mungkin juga tergantung pada pertanyaan moral status.

Secara luas disepakati bahwa sistem mesin pintar saat ini tidak memiliki status moral. Insinyur dapat mengubah, menyalin, menghentikan, menghapus, atau menggunakan program komputer sesuai desain; setidaknya sejauh program yang dibuat. Kendala moral untuk yang manusia dalam hubungan dengan sistem AI kontemporer semua didasarkan pada tanggung jawab untuk makhluk lain, seperti sesama manusia, tidak dalam tugas untuk sistem itu sendiri.

Meskipun cukup konsensus bahwa kini sistem AI kekurangan status moral, masih belum jelas kriteria dan atribut untuk status moral tersebut. Dua kriteria penting yang umumnya diusulkan terkait dengan status moral, baik secara terpisah atau dalam kombinasi: kesanggupan dan cita rasa (atau kepribadian). Ini dapat dicirikan kira-kira sebagai berikut:

  • Sentience: kapasitas untuk pengalaman fenomenal atau qualia, seperti kemampuan untuk merasakan sakit dan menderita.
  • Sapience: cita rasa: satu set kapasitas terkait dengan kecerdasan yang lebih tinggi, seperti kesadaran diri dan menjadi agen yang memiliki alasan.

Salah satu pandangan umum adalah bahwa banyak hewan memiliki qualia dan karena itu memiliki beberapa status moral, tapi hanya manusia memiliki cita rasa, yang memberi mereka status moral lebih tinggi dari hewan non-manusia. Pandangan ini tentu saja harus menghadapi kasus spesifik seperti, di satu sisi bayi manusia atau manusia dengan keterbatasan yang disebut sebagai “manusia marginal” bisa gagal memenuhi kriteria untuk cita rasa; dan di sisi lain, beberapa binatang seperti kera besar mungkin memiliki setidaknya beberapa elemen dari cita rasa. Ada yang menyangkal bahwa yang disebut “manusia marginal” memiliki status moral penuh. Yang lainnya mengusulkan cara-cara tambahan di mana sebuah objek bisa memenuhi syarat sebagai pembawa status moral, seperti dengan menjadi anggota dari jenis yang biasanya memiliki kesanggupan atau cita rasa, atau dengan berdiri dalam hubungan yang cocok untuk beberapa makhluk yang secara independen memiliki status moral. Meskipun demikian disini kita akan fokus pada kriteria kesanggupan dan cita rasa.

Sistem mesin pintar akan memiliki beberapa status moral jika memiliki kapasitas untuk qualia, seperti kemampuan untuk merasakan sakit. Sebuah sistem mesin pintar yang hidup, bahkan jika tidak memiliki bahasa dan kemampuan kognitif lainnya yang lebih tinggi, tidak seperti mainan boneka binatang; tetapi lebih seperti binatang hidup. Adalah salah untuk menimbulkan rasa sakit pada tikus, kecuali ada alasan moral untuk melakukannya. Hal yang sama akan berlaku untuk setiap sistem mesin pintar yang hidup. Jika selain kesanggupan, sistem mesin pintar juga memiliki cita rasa dari jenis yang sama dengan manusia dewasa normal, maka seharusnya memiliki status moral penuh setara dengan manusia.

Salah satu ide yang mendasari penilaian moral dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih kuat sebagai prinsip non-diskriminasi:

Prinsip Substrat Non-Diskriminasi
Jika dua makhluk memiliki fungsi yang sama dan pengalaman sadar yang sama, dan hanya berbeda dalam substrat pelaksanaannya, maka mereka memiliki status moral yang sama.

Banyak perdebatan untuk prinsip ini dengan alasan bahwa menolak itu akan sama dengan rasisme: substrat tidak memiliki perbedaan moral yang mendasar dalam cara dan alasan yang sama seperti warna kulit. Prinsip Substrat Non Diskriminasi tidak berarti bahwa komputer digital bisa sadar atau bahwa hal itu bisa memiliki fungsi yang sama sebagai manusia. Substrat tentu saja relevan sejauh itu secara moral dan memiliki perbedaan untuk kesanggupan atau fungsi. Tapi ini berarti tidak ada bedanya moral dari makhluk yang terbuat dari silikon atau karbon atau otak yang menggunakan semikonduktor.

Prinsip tambahan yang dapat diusulkan adalah bahwa sistem AI adalah buatan (artificial), yaitu produk yang sengaja dibuat – yang tidak relevan dengan status moral mereka. Kita bisa merumuskan ini sebagai berikut:

Prinsip Ontogeny Non-Diskriminasi
Jika dua makhluk memiliki fungsi yang sama dan pengalaman kesadaran yang sama, dan hanya berbeda dalam bagaimana mereka terbentuk, maka mereka memiliki status moral yang sama.

Saat ini ide tersebut diterima secara luas meskipun di beberapa kalangan khususnya di masa lalu, gagasan bahwa status moral seseorang tergantung pada garis keturunan atau kasta masih berpengaruh. Faktor penyebab seperti keluarga berencana, pertolongan persalinan, fertilisasi in vitro, peningkatan sengaja gizi ibu dan lain-lain yang memperkenalkan unsur pilihan yang disengaja dalam penciptaan manusia, memiliki implikasi yang diperlukan untuk status moral progeni. Bahkan mereka yang menentang kloning reproduksi manusia karena alasan moral atau agama umumnya menerima bahwa bayi manusia kloning akan memiliki status moral sama seperti bayi manusia lainnya. Prinsip Ontogeny Non Diskriminasi memperluas alasan ini sampai ke kasus yang melibatkan sistem kognitif yang seluruhnya buatan.

Tentu saja mungkin untuk mendapatkan kondisi penciptaan yang sedemikian rupa mempengaruhi keturunan berikutnya dan mengubah status moralnya. Sebagai contoh, jika beberapa prosedur dilakukan selama pembuahan atau kehamilan yang menyebabkan janin manusia berkembang tanpa otak, maka fakta tentang ontogeni akan relevan untuk penilaian dari status moral progeni. Anak anencephaly bagaimanapun akan memiliki status moral yang sama dengan anak anencephaly serupa lainnya, termasuk yang terjadi melalui proses alami. Perbedaan status moral antara anak anencephaly dan anak normal didasarkan pada perbedaan kualitatif antara dua fakta bahwa salah satu memiliki pikiran sementara yang lainnya tidak. Karena dua anak tidak memiliki fungsi yang sama dan pengalaman sadar yang sama, Prinsip Ontogeny Non-Diskriminasi tidak berlaku.

Meskipun Prinsip Ontogeny Non-Diskriminasi menegaskan bahwa ontogeni suatu makhluk tidak memiliki landasan penting pada status moral, hal itu tidak menyangkal bahwa fakta-fakta tentang ontogeni dapat mempengaruhi agen moral tertentu pada makhluk yang bersangkutan. Orang tua memiliki tugas khusus untuk anak kandung mereka tetapi tidak pada anak-anak lain. Demikian pula, Prinsip Ontogeny Non-Diskriminasi konsisten dengan klaim bahwa pencipta atau pemilik sistem mesin dengan status moral mungkin memiliki tugas khusus untuk pikiran buatan mereka yang mereka tidak memiliki pikiran buatan lain, bahkan jika pikiran tersebut secara kualitatif serupa dan memiliki status moral yang sama.

Jika prinsip-prinsip non-diskriminasi sehubungan dengan substrat dan ontogeni diterima, maka banyak pertanyaan tentang bagaimana memperlakukan otak buatan dapat dijawab dengan menerapkan prinsip-prinsip moral yang sama untuk menentukan tugas-tugas kita dalam konteks lebih akrab. Sejauh tugas moral berasal dari pertimbangan status moral, kita harus memperlakukan otak buatan hanya dengan cara yang sama seperti memperlakukan pikiran manusia alami secara kualitatif identik dalam situasi yang sama. Ini menyederhanakan masalah pengembangan etika untuk menangani otak buatan. Bahkan jika kita menerima sikap ini, kita harus menghadapi sejumlah pertanyaan etika baru dimana prinsip-prinsip tersebut mungkin tidak terjawab. Pertanyaan etika timbul karena otak buatan dapat memiliki sifat sangat berbeda dari manusia atau hewan yang alami. Kita harus mempertimbangkan bagaimana sifat baru akan mempengaruhi status moral dari otak buatan dan apa artinya untuk menghormati status moral dari pikiran eksotis tersebut.

Dalam kasus manusia, kita biasanya tidak ragu menganggap kesanggupan dan pengalaman sadar untuk setiap individu akan menunjukkan kondisi normal perilaku manusia. Sedikit yang yakin untuk menjadi orang lain dan bertindak normal tanpa memiliki kesadaran. Namun orang lain tidak berperilaku dengan cara yang mirip dengan diri kita sendiri; mereka juga memiliki otak dan arsitektur kognitif sendiri. Mesin pintar sebaliknya mungkin cukup berbeda dari kecerdasan manusia namun masih menunjukkan perilaku seperti manusia atau memiliki kecenderungan perilaku yang sama. Oleh sebab itu perlu untuk memahami kecerdasan buatan yang yang mungkin akan menjadi seperti seseorang, namun tidak akan hidup atau memiliki pengalaman sadar apapun. Apakah ini benar akan tergantung pada jawaban atas beberapa pertanyaan metafisik. Haruskah sistem seperti itu mungkin akan menimbulkan pertanyaan apakah orang yang tidak hidup akan memiliki status moral; dan jika demikian, apakah akan memiliki status moral yang sama sebagai orang hidup? Pertanyaan ini belum mendapat banyak perhatian hingga saat ini.

Properti eksotis lain, salah satu yang tentunya metafisik dan fisik bagi mesin pintar adalah tingkat subjektif yang menyimpang drastis dari tingkat yang merupakan karakteristik dari otak manusia biologis. Konsep tingkat subjektif dijelaskan pertama kali dengan memperkenalkan gagasan pemindahan otak. “Mengunggah” (upload) otak mengacu pada teknologi masa depan yang hipotesisnya memungkinkan manusia atau kecerdasan hewan lain ditransfer otak organik ke komputer digital. Salah satu skenarionya seperti ini: Pertama, scan resolusi sangat tinggi dilakukan pada otak tertentu, mungkin menghancurkan otak asli dalam prosesnya. Misalnya otak mungkin vitrifikasi dan dibedah menjadi irisan tipis yang kemudian dapat dipindai menggunakan beberapa bentuk mikroskopik yang dikombinasikan dengan pengenalan gambar otomatis. Kita membayangkan pemindahan ini akan cukup rinci untuk menangkap semua neuron, interkoneksi synaptic, dan fitur lainnya yang secara fungsional terkait dengan operasi otak asli. Kemudian, peta tiga dimensi dari komponen otak dan interkoneksi mereka dikombinasikan dengan pustaka teori ilmu saraf canggih yang menentukan sifat komputasi dari setiap jenis dasar elemen, seperti berbagai jenis neuron dan persimpangan sinaptik. Selanjutnya struktur komputasi dan perilaku algoritmik yang terkait dengan komponennya diimplementasikan di beberapa komputer yang kuat. Jika proses upload telah berhasil, program komputer mampu meniru karakteristik fungsional penting dari otak asli. Otak upload yang dihasilkan dapat menghuni simulasi virtual reality atau sebaliknya dan bisa diberikan kontrol dengan tubuh Robot sehingga memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan realitas fisik eksternal.

Sejumlah pertanyaan muncul dalam konteks skenario tersebut seperti, apakah prosedur ini suatu hari akan menjadi teknologi layak? Jika prosedur itu bekerja dan menghasilkan program komputer yang menunjukkan kepribadian yang sama, kenangan yang sama, dan pola berpikir yang sama seperti otak asli, apakah program menjadi hidup? Akankah komputer menjadi orang yang sama dengan individu yang otaknya dirakit dalam proses upload? Apa yang terjadi pada identitas pribadi jika upload disalin sehingga ada beberapa mesin dengan pikiran unggah identik berjalan secara paralel? Meskipun semua pertanyaan ini relevan dengan etika mesin pintar, disini kita fokus pada masalah yang melibatkan gagasan dari tingkat subjektif.

Misalkan jika otak upload bisa benar-benar hidup. Jika kita menjalankan program upload pada komputer yang sangat cepat, akan menyebabkan otak upload jika terhubung ke perangkat input seperti kamera video, dapat memahami dunia luar seolah-olah telah melambat. Sebagai contoh, jika otak upload berjalan seribu kali lebih cepat dari otak yang asli, maka dunia luar akan tampak seolah-olah melambat dengan faktor ribu. Seseorang menjatuhkan cangkir kopi fisik: otak upload mengamati cangkir secara perlahan-lahan jatuh ke tanah saat upload selesai membaca koran pagi dan mengirim beberapa email. Satu detik waktu obyektif sesuai dengan 17 menit waktu subjektif sehingga durasi objektif dan subjektif dapat menyimpang.

Waktu subjektif tidak sama dengan estimasi subjek atau persepsi tentang bagaimana waktu mengalir cepat. Manusia sering keliru tentang aliran waktu. Kita mungkin percaya bahwa itu adalah pukul satu ketika itu sebenarnya seperempat melewati dua; atau obat perangsang dapat menyebabkan pikiran kita untuk balapan, membuatnya tampak seolah-olah lebih banyak waktu subjektif daripada yang sebenarnya terjadi. Kasus ini biasa melibatkan waktu persepsi yang menyimpang bukan pergeseran dalam tingkat waktu subjektif. Bahkan dalam otak yang dipengaruhi kokain, mungkin tidak ada perubahan yang signifikan dalam kecepatan perhitungan neurologis dasar; lebih mungkin obat ini menyebabkan otak seperti berkedip lebih cepat dari satu pikiran ke yang lain.

Variabilitas tingkat subjektif dari waktu adalah properti eksotis pikiran buatan yang menimbulkan masalah etika baru. Misalnya, dalam kasus di mana durasi pengalaman etis yang relevan, haruskah durasi diukur dalam waktu objektif atau subjektif? Jika otak upload telah melakukan kejahatan dan dihukum empat tahun penjara, empat tahun obyektif mungkin setara dengan ribuan tahun dari waktu subjektif, apakah harus dihukum empat tahun subjektif yang mungkin hanya beberapa hari waktu obyektif? Karena kita terbiasa dalam konteks manusia biologis, waktu subjektif bukan variabel signifikan dan tidak mengherankan bahwa pertanyaan semacam ini tidak bisa diselesaikan oleh norma-norma etika yang kita ketahui, bahkan jika norma tersebut diperluas untuk otak buatan dengan cara prinsip non-diskriminasi.

Untuk menggambarkan jenis klaim etika yang mungkin relevan di sini, kami merumuskan suatu keistimewaan prinsip waktu subjektif sebagai gagasan normatif yang lebih mendasar:

Prinsip Subyektif Tingkat Waktu
Dalam kasus di mana durasi pengalaman adalah dasar kepentingan normatif, maka pengalaman dengan durasi subjektif yang diperhitungkan.

Satu bagian penting dari sifat yang eksotis dari mesin pintar berhubungan dengan reproduksi. Sejumlah kondisi empiris yang berlaku untuk reproduksi manusia tidak perlu berlaku untuk kecerdasan buatan. Misalnya, anak-anak manusia adalah produk dari rekombinasi materi genetik dari dua orang tua; orang tua memiliki kemampuan yang terbatas untuk mempengaruhi karakter keturunan mereka; embrio manusia perlu bertahan dalam rahim selama sembilan bulan; dibutuhkan lima belas atau dua puluh tahun untuk anak manusia untuk mencapai kedewasaan; anak manusia tidak mewarisi keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tuanya; manusia memiliki evolusi kompleks untuk mengatur adaptasi emosional yang berkaitan dengan reproduksi, memelihara, dan hubungan anak dan orangtua. Tak satu pun dari kondisi empiris perlu berhubungan dalam konteks reproduksi mesin pintar. Oleh karena itu cukup masuk akal bahwa banyak dari prinsip-prinsip moral tingkat menengah yang mengatur reproduksi manusia perlu dipikirkan kembali dalam konteks reproduksi mesin pintar.

Untuk menggambarkan mengapa beberapa norma moral perlu dipikirkan kembali dalam konteks reproduksi mesin pintar, perlu dipertimbangkan satu properti eksotis yaitu kapasitas untuk melakukan reproduksi dengan sangat cepat. Jika diberi akses ke perangkat keras komputer, mesin pintar bisa menduplikasi sendiri sangat cepat, dalam waktu tidak lebih dari yang dibutuhkan untuk membuat salinan dari perangkat lunak mesin pintar. Terlebih lagi, sejak salinan mesin pintar identik dengan aslinya, akan lahir generasi baru yang matang yang bisa mulai membuat salinannya sendiri dengan segera. Tidak ada keterbatasan hardware, sehingga populasi mesin pintar bisa tumbuh dengan pesat pada tingkat yang sangat cepat, dengan waktu dua kali lipat pada urutan menit atau jam daripada dekade atau abad. Norma-norma etika reproduksi kita saat ini mencakup beberapa versi prinsip kebebasan reproduksi, yang menyatakan bahwa terserah kepada masing-masing individu atau pasangan untuk menentukan sendiri apakah akan memiliki anak dan berapa banyak anak untuk memiliki. Norma lain yang kita miliki (setidaknya di negara-negara kaya dan menengah) adalah masyarakat harus terlibat memberikan kebutuhan dasar anak-anak dalam kasus di mana orang tua mereka tidak mampu atau menolak untuk melakukannya. Sangat mudah untuk melihat bagaimana dua norma-norma ini bisa bertabrakan dalam konteks entitas dengan kapasitas reproduksi yang sangat cepat untuk mesin pintar berbasis kecerdasan buatan.

Populasi mesin pintar bisa memiliki keinginan untuk memproduksi klan sebesar mungkin. Jika diberi kebebasan reproduksi yang lengkap, mesin pintar dapat menyalin dirinya dengan cepat dan salinan dapat berjalan pada perangkat keras komputer baru yang dimiliki atau disewa atau mungkin berbagi komputer yang sama. Segera, anggota klan mesin pintar akan menemukan diri mereka tidak mampu membayar tagihan listrik atau sewa untuk pengolahan komputasi dan penyimpanan yang diperlukan untuk membuat mereka hidup. Pada titik ini, sistem kesejahteraan sosial mungkin menolak menyediakan kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidup. Tetapi jika populasi tumbuh lebih cepat dari perekonomian, sumber daya akan habis; di mana titik mesin pintar akan mati atau kemampuan mereka untuk mereproduksi akan sangat dibatasi. Skenario ini menggambarkan bagaimana beberapa prinsip-prinsip etis tingkat menengah yang cocok dalam masyarakat kontemporer mungkin perlu dimodifikasi jika masyarakat yang meliputi mesin yang dapat berkembang biak sangat cepat.

Yang penting disini adalah bahwa ketika berpikir tentang etika terapan untuk konteks yang sangat berbeda dari kondisi manusia, kita harus berhati-hati untuk tidak membuat kesalahan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip etis tingkat menengah untuk kebenaran normatif dasar. Dengan kata lain, kita harus mengakui sejauh mana aspek normatif biasa secara implisit dikondisikan untuk memperoleh berbagai kondisi empiris dan kebutuhan untuk menyesuaikan ajaran ini ketika diterapkan untuk kasus futuristik. Kami tidak membuat klaim kontroversial tentang relativisme moral, tetapi hanya menyoroti konteks akal sehat yang relevan dengan penerapan etika dan menyarankan bagaimana konteks bisa relevan ketika mempertimbangkan etika dalam sifat eksotis mesin pintar.

Baca bagian selanjutnya mengenai ASI, atau kembali ke ANI atau pengenalan.

TSMRA, Jakarta, 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *