(1/4) Masalah Etika Revolusi Mesin Pintar

Kecerdasan buatan (articifical intelligence atau disingkat AI) adalah istilah untuk kemampuan intelijen atau kecerdasan yang dimiliki oleh perangkat lunak yang berjalan pada mesin komputer. Tujuan utama dari penelitian kecerdasan buatan meliputi penalaran, pengetahuan, perencanaan, pembelajaran, pengamatan, persepsi, pengolahan bahasa alami, pengenalan pola dan banyak lagi. Saat ini, ada banyak fakta tentang kemajuan dramatis dalam AI seperti komputer yang berhasil mengalahkan juara dunia catur, mobil tanpa supir dari Google, robot pemain bulu tangkis, komputer memainkan video game, dan lain-lain. Hal tersebut cenderung menghasilkan prediksi spekulatif bahwa AI akan mencapai kecerdasan tingkat manusia di masa depan. Ray Kurzweil, pemikir terkemuka dalam prediksi teknologi, memperkirakan ini akan terjadi pada tahun 2029. Perusahaan teknologi dunia memulai taruhan besar dengan menempatkan investasi besar untuk profitabilitas AI. Untuk contoh, raksasa teknologi AS Google, Microsoft, Amazon, Twitter dan Facebook, serta Baidu dari China, baru-baru ini memacu departemen penelitian AI mereka dengan mempekerjakan peneliti AI terkenal dari kalangan akademisi. Disisi lain, nama-nama besar dalam teknologi seperti Stephen Hawking, Bill Gates dan Elon Musk telah memperingatkan tentang bahaya yang mungkin diakibatkan oleh mesin pintar dengan kecerdasan setara manusia.

Kemajuan AI dimulai oleh cabang ilmu komputer yang disebut pembelajaran mesin (machine learning), yang merupakan bidang studi AI untuk memberikan komputer kemampuan belajar dari data dan menghasilkan keputusan tanpa eksplisit diprogram. Pembelajaran mesin memungkinkan komputer untuk belajar dari pengalaman dan teknologi tersebut telah ada di mana-mana saat ini. Pembelaran mesin membuat pencarian Web yang lebih relevan, tes darah lebih akurat dan layanan kencan untuk menemukan calon pasangan sesuai kriteria. Secara sederhana, algoritma pembelajaran mesin mengambil kumpulan data yang ada, menyisir untuk mempelajari pola, kemudian menggunakan pola-pola ini untuk menghasilkan prediksi tentang data baru di masa depan. Terkesan sederhana, namun kemajuan dalam pembelajaran mesin selama dekade terakhir telah banyak berubah. Contohnya, AlphaGo, sistem komputer Google yang menggunakan pembelajaran mesin telah mengalahkan pemain Catur-Go yang terbaik di dunia. Atau robot dengan kamera dan kemampuan pengamatan visual dari pembelajaran mesin telah mampu bermain bulu tangkis dengan pemain professional.

Kompetisi mesin pintar tidak hanya melibatkan mesin. Beberapa tahun yang lalu Netflix perusahaan rental film online ingin membantu pelanggan menemukan film yang mereka senangi, terutama film-film yang tidak begitu terkenal dan bukan “rilis terbaru” yang sebagian besar diabaikan dalam katalog mereka. Perusahaan sudah memiliki sistem rekomendasi film, tapi masih jauh dari sempurna. Jadi perusahaan meluncurkan kompetisi untuk memperbaiki sistem yang ada dengan aturan sederhana: pemenang pertama untuk yang mengalahkan kinerja sistem terdahulu sebesar 10 persen akan mendapatkan hadiah $1-juta. Puluhan ribu peneliti dan insinyur dari seluruh dunia mendaftar. Bagi mereka, kompetisi ini seperti mimpi dan bukan hanya untuk hadiah uangnya. Komponen yang paling penting dari sistem mesin pintar adalah data dan Netflix menyediakan 100 juta data real yang siap untuk digunakan. Saat ini tidak hanya NetFlix, semua raksasa teknologi seperti Facebook, Google, Microsoft, Amazon, Twitter, Samsung telah berkolaborasi untuk mempercepat kemajuan mesin pintar dengan berbagi pengalaman, teknologi dan yang lebih penting lagi banyak data secara gratis.

Kemajuan akan semakin dipercepat. Mesin pintar bukanlah konsep sci-fi yang masih jauh, tetapi kita sudah menggunakannya setiap hari tanpa menyadarinya. Ketika anda mengetik di software pengolah kata, banyak algoritma pembelajaran mesin yang membantu untuk mengetik lebih baik dengan memprediksi kesalahan ketik dan memberi perbaikan. Atau ketika anda membuka browser untuk mencari sesuatu di internet. Kita tidak tahu seberapa jauh kemajuan teknologi mesin pintar ini akan berkembang untuk mengubah cara hidup kita dengan disadari maupun tidak.

Ada beberapa jenis atau bentuk mesin pintar karena kecerdasan buatan merupakan konsep yang sangat luas. Saya menggunakan tiga kategori utama dalam tulisan ini:

  • Artificial Narrow Intelligence (ANI): Kadang-kadang disebut sebagai AI lemah. ANI adalah AI yang mengkhususkan diri untuk suatu domain seperti bisa mengalahkan juara dunia catur atau memainkan video game, tapi itu satu-satunya hal yang dilakukannya. Meminta ANI untuk mencari cara yang lebih baik untuk menyimpan data pada hard drive misalnya, tidak dapat dilakukannya.
  • Artifical General Intelligence (AGI): Kadang-kadang disebut juga sebagai AI kuat atau AI setingkat manusia. AGI mengacu pada komputer yang cerdas setara manusia yang bisa melakukan tugas intelektual seperti manusia. Membuat teknologi AGI adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada membuat ANI, tetapi saat ini banyak penelitian dilakukan ke arah AGI.
  • Artificial Superintelligence (ASI): Mesin pintar yang jauh lebih pintar dari manusia terbaik di hampir setiap bidang, termasuk kreativitas ilmiah, kebijaksanaan umum dan keterampilan sosial. Filsuf besar dan pemikir AI terkemuka dari Oxford, Nick Bostrom [2] mendefinisikan ASI sebagai perkembangan dari komputer yang hanya sedikit lebih pintar dari manusia ke komputer yang trilliunan kali lebih pintar.

ANI adalah mesin pintar yang sama atau melebihi kecerdasan atau efisiensi manusia pada hal tertentu. Beberapa contoh seperti mobil tanpa supir Google, pengenalan suara di Smartphone (Siri, Cortana, S-Voice), filter spam email, penerjemah dan pencarian Google, Facebook face recognition dan lain-lain. Sistem ANI seperti sekarang, tidak sangat berbahaya. Tapi sementara ANI tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan ancaman eksistensial, kita harus melihat ini dari sisi ekosistem yang semakin besar dan kompleks, karena meskipun relatif tidak berbahaya ANI akan mengubah dunia. Selanjutnya para ilmuwan dan filsuf percaya bahwa AI adalah suatu revolusi, mengambil jalan dari ANI, melalui AGI, untuk menuju ke ASI yang tentu saja akan membuat dampak besar bagi kemanusiaan. Mereka percaya setiap inovasi ANI secara tidak sadar akan menambahkan batu bata ke jalan menuju AGI dan kemudian ASI. Selama proses tersebut isu-isu etika yang terkait dengan penciptaan masa depan, kemungkinan adanya mesin dengan kemampuan AGI yang jauh melampaui manusia, akan menimbulkan masalah etika yang sangat berbeda. ASI bukan hanya pengembangan teknologi tetapi akan menjadi penemuan paling penting yang pernah dibuat manusia sehingga akan menyebabkan ledakan kemajuan di segala bidang ilmiah dan teknologi. Mesin pintar ASI bukan hanya super intelijen, tapi mampu terus berkembang memodifikasi dan memperbaiki kecerdasannya.

Sulit untuk membuat mesin sepintar manusia karena otak manusia adalah obyek paling kompleks di alam semesta. Google saat ini menghabiskan miliaran dolar mencoba untuk melakukannya. Hal-hal sulit untuk otak manusia seperti kalkulus, strategi pasar keuangan, dan menterjemahkan bahasa, saat ini menjadi sangat mudah dengan komputer, sementara hal-hal mudah pada manusia seperti pengamatan gerak, dan persepsi, sangat sulit dilakukan oleh komputer. Ilmuwan komputer Donald Knuth katakan, “AI telah sekarang telah berhasil melakukan segala sesuatu yang membutuhkan pemikiran, tetapi gagal untuk melakukan apa yang orang dan hewan lakukan tanpa berpikir”.

Kita tidak akan membahas kompleksitas teknis untuk mencapai AGI atau ASI dalam blog ini. Sebaliknya, kita akan menyimak dan mendiskusikan beberapa masalah etika sebagai akibat dari revolusi mesin pintar yang saat ini terjadi. Kami percaya kemajuan teknologi mesin pintar dapat menimbulkan konflik besar terhadap aspek kemanusiaan dalam konteks kualitas pemikiran moral dan etika saat ini. Namun diharapkan pesan itu akan sampai ke arsitek mesin pintar untuk menentukan motivasi yang lebih baik bagi kemanusiaan. Mesin pintar dapat menjadi tak terkendali karena keunggulan intelektual dan teknologinya yang bisa berkembang sendiri. Oleh sebab itu sangatlah penting untuk memberikan motivasi ramah kemanusiaan kepada mesin pintar atau insinyur yang nanti akan membuat mesin pintar.

Baca selanjutnya mengenai ANI, AGI dan ASI. Semoga bermanfaat!

TSMRA, Jakarta, 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *